Misi Ketaqwaan untuk Kemajuan Nusantara

Home / Kopi TIMES / Misi Ketaqwaan untuk Kemajuan Nusantara
Misi Ketaqwaan untuk Kemajuan Nusantara Muhammad Yunus, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESKALTIM, MALANG – Berpuasalah kamu mudah-mudahan kamu menjadi hamba yang bertaqwa. Itulah misi utama dalam menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Sebuah sarana dan media yang Allah berikan kepada makhluk-Nya agar menjadi hamba yang baik. Ukuran seorang hamba yang baik adalah bertaqwa kepada Allah SWT.

Makna taqwa sudah banyak diulas oleh para mubaligh, bahkan menjadi pesan khusus dalam khutbah Jum’at. Setiap khatib akan selalu mengingatkan jemaah sholat Jumat untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT karena ajakan untuk bertaqwa ini menjadi rukun dalam khutbah Jumat. Lantas apa kaitannya antara ketaqwaan untuk kemajuan nusantara ini.

Salah satu penjelasan yang sering diulas oleh penceramah Ramadhan adalah nukilan ayat Ali Imran ayat 133-134. Ayat tersebut berbunyi yang artinya “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Dalam ayat tersebut setidaknya Allah menggariskan ciri utama orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, yaitu berbagi kepada sesama, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Jika renungi ayat ini, ciri utama orang bertaqwa mempunyai dimensi sosial yang sangat tinggi. Dalam ayat sebelumnya disampaikan seruan agar manusia segera memohon ampunan kepada Allah SWT sebagai dimensi vertikal, lantas diteruskan untuk dimensi horizontal ini.

Carut-marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara dengan masifnya informasi hoax (bohong) berdampak terhadap mudahnya kita menjadi rakyat pemarah. Masyarakat menjadi terbelah, doktrin kelompok menjadi-jadi, akibatnya terjadilah disparitas kelompok yang terus tajam. Kelompok yang bangga terhadap dirinya, dan kelompok yang selalu menyerang kelompok-kelompok lain. Lupa bahwa mereka sesungguhnya adalah satu yakni Islam. Lantas dimana nilai ibadah yang dilakukan jika perilaku sosial masih saja seperti itu, mengarah pada kebencian, suka menyerang kelompok lain, dan lain sebagainya yang akibatnya berdampak terhadap pembangunan Indonesia itu sendiri.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com