Indonesia Pasca Ujian Nasional (UN) Ada Di Ujung Jari

Home / Kopi TIMES / Indonesia Pasca Ujian Nasional (UN) Ada Di Ujung Jari
Indonesia Pasca Ujian Nasional (UN) Ada Di Ujung Jari Wiyono, M.Pd, Pendidik dan penulis, di Al Izzah Batu

TIMESKALTIM, BATUUjian Nasional (UN atau UNas) tahun 2020 ini, bisa dipastikan yang terakhir. Setelah beberapa tahun UN yang bisa dibilang bergengsi ini dilaksanakan, kemudian dihentikan dengan berbagai pertimbangan. UN yang dulunya dianggap sakral oleh pemangku dan pelaksana, seiring perjalanan waktu, perkembangan zaman, serta pemegang kebijakan, kini sudah luntur. UN selain untuk mengetahui hasil, sekaligus evaluasi pembelajaran, juga untuk meningkatkan kualitas pelaksana, pemangku, dan peserta ujian ke jenjang yang lebih tinggi. 

UN tahun 2020 tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan dilakukan oleh elemen sekolah untuk menghadapinya. Persiapan yang dilakukan melalui belajar mandiri, kelompok, maupun bimbingan belajar. Begitu juga pengelola dan pihak sekolah sudah pasang kuda-kuda jauh-jauh hari. Mulai latihan soal, pembahasan, pemantaan materi dan konsep, serta try out, bahkan kerjasama dengan lembaga pendidikan, atau bimbingan belajar lainnya. Kemudian di pihak orang tua kekhawatiran ujian juga dirasakan. Untuk menghadapi hal tersebut mereka tidak segan merogoh kocek yang begitu dalam, tirakat, bangun malam, meminta berdoa, bahkan diantara mereka banyak yang berpuasa dan meningkatkan ibadah untuk kesuksesan putra putrinya. 

Selain itu, bagi siswa, mereka rela melakukan sesuatu yang dirasa mampu. Sebagian mereka tidak gengsi atau malu meminta maaf kepada adik kelas, kakak kelas, guru, orang tua, dan kepada siapapun. Sambil meminta doa supaya dimudahkan dan diberi hasil yang lebih baik dalam mengerjakan soal UN. 

Selain itu ada juga yang rela bertindak di luar batas, seperti: mendoakan pensilnya, datang ke ulama, atau bahkan ada juga yang datang ke “orang pinter’. Itu semua dia lakukan untuk menghilangkan kegundahan dalam menghadapi UN. Semua itu dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. 

Di sisi lain untuk mendukung program tersebut, pihak pemerintah mengganggarkan dana untuk penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) ini hingga miliaran rupiah. Inilah sebagai bukti bahwa UN membutuhkan “DUIT” banyak dalam hal ini uang atau anggaran. Selain itu juga dibutuhkan “DUIT” yang lain. Apakah “DUIT” yang lain itu? Dia adalah Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal. 

Selain itu, UN juga memberikan dampak positif bagi penanaman karakter peserta didik. Contohnya: mereka yang dulunya tidak taat atau tidak sopan kepada guru dan orang tuanya, akhirnya tawadluk dan menurut. Selain itu yang dulunya malas sholat wajib, sunah, ibadah, sodaqoh, berbuat baik, malas-malasan belajar, jadi semangat segalanya. Inilah buktinya bahwa Ujian nasional merupakan sarana terbaik untuk membimbing yang lebih baik. 

Sayangnya ke depan hal di atas sudah tidak ada lagi. Semuanya tinggal kenangan. Kemudian langkah apa lagi yang sebaiknya dilakukan untuk membimbing mereka memiliki karakter yang lebih baik. Apalagi dengan embel-embel merdeka belajar, mereka ketika diarahkan untuk belajar sesuai dengan pentunjuk pendidik. Mereka beralasan merdeka jadi tidak perlu diatur-atur. Siswa cenderung semaunya sendiri, di samping itu tidak ada kebenaran yang mutlak alasannya semua betul berdasarkan argumentasi yang masuk masing-masing peserta didik. Jika tidak masuk akal baru dianggap tidak benar. Di samping itu akhlaq siswa juga sulit dikendalikan untuk memilih yang terbaik diantara yang baik baik, alasannya mereka merasa merdeka sesuai dengan keinginan dan kemauannya masing masing. Inilah alibi mereka terkait slogan “Merdeka Belajar”. 

Semua memang ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagian hal di atas cerminan kelemahan merdeka belajar. Di sisi lain memang banyak juga kelebihannya. Sebagai contoh: siswa semakin bebas berkreasi kreatif dan menuangkan ide, gagasan, pemikiran yang tidak terfikirkan oleh seorang guru atau pendidik. Di samping itu pembelajaran semakin bermakna, memiliki ruh, serta berkembang pesat karena siswa tidak didikte dan dibatasi. 

Selain itu siswa semakin menikmati belajarnya, karena ide, gagasan, dan argumentasinya bisa dituangkan dalam bentuk karya yang luar biasa.

Ditambah lagi dengan adanya perkembangan merdeka belajar dirasa lebih mudah dan meringankan beban guru yang selama ini harus aktif sedangkan siswa yang pasif. Belum cukup di situ, jika dievaluasi, hasil pembelajaran merdeka belajar, prestasi belajar siswa semakin meningkat pesat dan korelasinya tambah baik dibandingkan sebelumnya. Alasannya penerapan student centre bukan teacher centre.

Selain itu, pembelajaran bisa dibilang efektif, bervariasi, dan luas karena setiap anak belajar berdasarkan kompetensinya masing-masing. Sebagai contoh di pembelajaran bahasa, ada yang menyimak, membaca, berbicara, menulis, berdiskusi, praktik, dan mengkaji dasar pembelajaran atau materi tertentu di dalam Al Quran atau Hadist yang akhirnya diantara mereka saling melengkapi dan melalui presentasi masing-masing individu atau kelompok mereka mendapatkan ilmu yang utuh. Inilah luar biasanya pembelajaran merdeka belajar. 

Sebagai contoh merdeka belajar yang lain. Contohnya dengan satu bahan singkong, mereka bisa menyimak, membaca, cerita, menulis dan menemukan dasar Al Quran yang berhubungan dengan singkong ini. Terkait singkong, jika dalam pembelajaran teks petunjuk atau prosedur, mereka bisa membuat singkong goreng, singkong rebus, bakar, dan kukus. 

Dibuat kripik, krupuk, donat, sele, singkong coklat, singkong susu, jus, singkong, kue singkong, roti, bubur, dodol, kolak, singkong keju, singkong, hiasan, dan kreatifitas yang lainnya yang berbahan singkong ini. bagi yang mencari dasar di Al Quran bisa dihuubngkan yang terkait dengan petunjuk, atau prosedur, dan pertanian. Seperti contoh :

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Al Qoshos ayat 56.

Begitu juga dalam surat Maryam ayat: 76 ditegaskan. Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.

Asy Syuara ayat 7 juga ditegaskan. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?

Dan masih banyak lagi dasar terkait hal di atas. Kesimpulan dari opini di atas, baik unas maupun merdeka belajar, semuanya ada kelebihan dan kekurangan masing masing. Hal tersebut bisa dianalogikan dengan duit yang ada dua sisi, yang setiap sisinya ada fungsi dan kegunaannya masing masing. Di satu sisi ada kelebihan dan sisi yang lain juga ada kelemahannya. Sekarang tugas kita mengikuti apa yang ada tersebut dengan modal yang kita miliki. Jika sudah cukup kita patut bersyukur, jika kurang kita wajib sabar belajar lagi untuk lebih baik. Inilah intinya Unas (ujian nas/manusia) yang sebenarnya yaitu syukur dan sabar.

Bagi hamba Allah SWT yang beriman, hidup adalah ujian. Berbagai macam ujian silih berganti mendatangi kita. Selama hidup, selama itulah kita diuji Allah SWT. 

Hal tersebut tertera di dalam QS Al-Mulk:2 ''Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.'' 

Minimal ada tujuh ujian hidup yang wajib kita ketahui. Insya Allah, Allah SWT luruskan dari ujian-ujian-Nya, sehingga meraih gelar shobirin dan mujahidin.

''Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu.'' (QS Muhammad: 31).

Pertama, ujian berupa perintah Allah, seperti Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT menyembelih putra tercintanya bernama Ismail. 
Kedua, ujian larangan Allah SWT, seperti larangan berzina, korupsi, membunuh, merampok, mencuri, menyuap, dan segala kemaksiatan serta kezaliman.

Ketiga, ujian berupa musibah. ''Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.'' (QS Al-Baqarah [2]: 155). 

Keempat, ujian nikmat, sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 7. ''Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.''

Kelima, ujian dari orang zalim buat kita, baik kafirun (orang yang tidak beragama Islam), musyrikun (menyekutukan Allah SWT), munafiqun, jahilun (bodoh), fasiqun (menentang syariat Allah), maupun hasidun (dengki, iri hati). 

Keenam, ujian keluarga, suami, istri, dan anak. Keluarga yang kita cintai bisa menjadi musuh kita karena kedurhakaanya kepada Allah SWT. 
Ketujuh, ujian lingkungan, tetangga, pergaulan, tempat dan suasana kerja, termasuk sistem pemerintahan/negara.

Dari ketujuh ujian tersebut, Subhanallah, Allah SWT amat sayang kepada kita. Allah SWT tunjukkan cara menjawab ujian itu semua. ''Dan minta pertolonganlah kamu dengan kesabaran dan dengan shalat, dan sesungguhnya shalat sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk tunduk jiwanya.'' (QS Al-Baqarah: 48). 

Sebagai penutup apapun ujian yang kita hadapi semua itu merupakan proses untuk mendewasakan diri kita dan untuk meningkatkan derajat kita di depan Yang Maha Kuasa. Semoga kita dijadikan Allah SWT, hamba-Nya yang lulus dari ujian. Amin ya mujibas sailin. 

Intinya, pasca ujian nasional (UN/UNas) Indonesia ada di ujung jari karena informasi, pendidikan, pembelajaran, dan semuanya yang kita butuhkan bisa kita akses melalui hand phone (HP) yang langsung bisa digesek dengan ujung jari kita. Kita akan kemanapun, melakukan apapun sudah bisa dan tidak perlu kemana-mana.  Tugas kita membentengi hal yang negatif dan mengikui yang positif dengan benar. Harapannya semoga ke depan BISA lebih baik. Amiin.

***

*)Penulis: Wiyono, M.Pd, Pendidik dan penulis, di Al Izzah Batu 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com