Diskusi AJI-TIMES Indonesia, Menyoal Fenomena Media Sosial dan Jurnalisme

Home / Berita / Diskusi AJI-TIMES Indonesia, Menyoal Fenomena Media Sosial dan Jurnalisme
Diskusi AJI-TIMES Indonesia, Menyoal Fenomena Media Sosial dan Jurnalisme Diskusi bersama di Kantor TIMES Indonesia menyoal fenomena media sosial dan jurnalisme. (Foto: Tria Adha/TIMES Indonesia)

TIMESKALTIM, MALANG – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama TIMES Indonesia bekerjasama menggelar diskusi mendalam soal fenomena media sosial dan jurnalisme di era kekinian. Diskusi digelar di Kantor TIMES Indonesia, Jl Pandan 5, Kota Malang, Sabtu (14/12/2019).

Hadir sebagai pemantik diskusi, Dosen Ilmu Komunikasi UNITRI Malang Akhirul Aminulloh. Diskusi juga dihadiri Ketua AJI Malang Mohammad Zainuddin, Ketua PWI Malang M Ariful Huda, Ketua PFI Malang Darmono, perwakilan IJTI, wartawan, mahasiswa dan pelaku media sosial.

AJI-TIMES-Indonesia-2.jpg

Menurut Zainuddin, menjadi wartawan harus siap memasuki zona serius. Pekerjaannya dituntut target atau deadline, sehingga kecepatan menjadi keharusan.

Meskipun begitu, ia menegaskan wartawan ditantang untuk menyajikan berita yang akurat. Akurasi ini menjadi syarat mutlak yang diperlukan saat menjalani tugas kewartawanan.

AJI-TIMES-Indonesia-3.jpg

"Menjadi wartawan itu profesi yang gawat. Pasar menghendaki yang lain. Memang harus cepat, tapi kita juga harus akurat," katanya.

Dosen Ilmu Komunikasi UNITRI Malang Akhirul Aminulloh mengatakan bahwa media sosial bergerak sangat dinamis. Kaitannya dengan jurnalisme sangat melekat karena banjirnya informasi di dunia maya nyaris tak bisa dibendung.

AJI-TIMES-Indonesia-4.jpg

Ia menjelaskan bagaimana fenomena big data yang saat ini bergulir. Menurutnya, dengan big data, orang dapat membuat keputusan secara tepat dan cepat. Bahkan, big data memungkinkan search the track record dan reputasi siapapun bisa terkuak, seseorang bisa ditelanjangi oleh data-data yang tertampung.

Pria yang akrab dipanggil Amin melanjutkan jika fenomena ambiguitas media sosial dialami banyak orang. Pengguna medsos, kata dia, harusnya bisa membedakan ruang publik dan ruang privat.

"Kita sering melampiaskan emosi kita dalam media sosial. Apapun aplikasi yang dipakai, misal Facebook (FB), semua postingan kita akan menguntungkan FB," bebernya.

Amin membeberkan bahwa ada beberapa media mainstream yang kerapkali menjadikan media sosial sebagai sumber utama. Memang, sambungnya, ada suatu fenomena yang belum diulas oleh media mainstream, tapi di medsos sudah diulas dan tersebar luas.

"Ini menjadi problem juga. Surga neraka, dalam keadaan tertentu, juga ada di media sosial. Orang menghujat dan memuji kumpul di sana semua," ungkapnya.

Menurutnya, memasuki era post truth ini, bagaimana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. "Orang melihat fakta berdasarkan emosi kita. Misal ada orang bilang hemat, ada yang sebagian bilang pelit. Ini yang benar yang mana," bebernya.

Ia menegaskan saat ini tidak ada monopoli informasi. Semua orang bisa jadi pakar dan komentator.

Diskusi yang diinisiasi AJI bekerjasama dengan TIMES Indonesia ini adalah kegiatan roadshow awal. Ke depan, AJI akan melanjutkan safari diskusinya di berbagai tempat dan terbuka untuk umum. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com